komitmen karyawan: mitos atau fakta?

Sumber daya manusia atau karyawan merupakan nyawa bagi sebuah organisasi/perusahaan. Begitu banyak strategi yang dilakukan perusahaan untuk membuat komitmen dan kinerjanya meningkat, misalnya melalui antara lain gaji pokok yang besar plus skema bonus yang ciamik sudah menanti. Bisa juga pemenuhan fasilitas-fasilitas standar seperti ruangan ber-AC, komputer yang up to date, kursi yang nyaman, bahkan untuk beberapa perusahaan sudah menyediakan tempat makan yang berkelas dan tempat fitness untuk karyawannya. Namun dengan imbalan sebanyak itu masih banyak karyawan yang mengeluh dengan tempat kerjanya, memperlakukan pelanggan dengan kurang menyenangkan, dan khusus untuk PNS masih.. huff.. masih banyak yang harus dibenahi dari karyawan organisasi pemerintah ini.

Saya berpikir, apa jadinya kalau perusahaan atau instansi tempatnya bekerja tidak memberikan fasilitas-fasilitas yang disebutkan di atas. Yang perusahaan berikan hanya fasilitas standar. Apakah masih ada karyawan yang berpikir “saya akan bekerja sebaik mungkin, dan saya yakin rejeki akan mengikuti saya”.

Kalau sahabat pernah berkunjung ke Yogyakarta, masih banyak para abdi dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang mengabdi pada kanjeng sinuhun (sebutan raja) dengan sepenuh hati. Saya sebut “mengabdi” karena memang tingkatannya sudah jauh lebih tinggi dari sekedar hanya bekerja. Mereka tidak memiliki fasilitas-fasilitas dahsyat layaknya karyawan sebuah instansi, mereka bekerja dengan ikhlas dengan gaji dibawah standar pekerja pada umumnya. Atau saya lihat ada contoh lain, ada beberapa pembantu rumah tangga yang rela bekerja puluhan tahun, dari remaja hingga dewasa, bahkan sampai anak majikannya menikah punya anak, dia masih setia bekerja disana.

Seandainya komitmen karyawan memang susah untuk dibeli, ada baiknya kita tidak hanya melihat dari sisi karyawannya saja, tetapi bagaimana dengan pemilik atau pimpinan dari perusahaan tersebut, apakah sudah cukup memberikan contoh (role model) yang baik? Apakah sudah cukup nguwongke (memperlakukan orang lain layaknya diri sendiri/keluarga)?

Jangan-jangan karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri, mereka kurang memperhatikan karyawannya. Seorang pemimpin seharusnya juga memberikan contoh yang patut dijadikan model untuk para karyawannya. Seorang pemimpin juga merupakan “orang tua” buat para karyawannya. Dari situlah kewibawaan pemimpin muncul menghampiri para karyawan. Jika pemimpin sudah lupa dengan karyawan otomatis karyawan pun akan “lupa” dengan tugas-tugasnya. Mereka tidak bisa mengeluarkan effort terbaiknya, pekerjaan hanya dilihat sebagai setumpuk tugas penggugur kewajiban saja..

Dalam persaingan yang hiperkompetitif saat ini, perusahaan dituntut bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik karyawan saja, namun perlu diperhatikan kebutuhan mental, emosional, dan spiritual mereka. Ketika perusahaan hanya fokus pada kebutuhan fisik saja, maka komitmen dan prestasi kinerja ala kadarnya yang akan ditunjukkan karyawan. Jangan lupa bahwa semakin pandai karyawannya, maka kebutuhan emosional dan spiritual akan semakin diperlukan. Hal ini seperti berlaku pada piramida hierarki kebutuhan Abraham Maslow.

Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan handarbeni (sense of belonging) para karyawan, karena mereka adalah aset perusahaan juga. Sebuah komitmen lahir dari ikatan emosional yang kuat dan semangat spiritual yang menenangkan. Selain program-program compensation and benefit serta training and development yang memadai, sangat baik dirintis program-program yang memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual karyawan.

Selamat mencoba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s