mengatasi para Complainer..

Manusia adalah makhluk sosial yang pintar dan selalu terus berkembang. Dari segi kepribadian, dapat dikatakan manusia adalah makhluk yang serupa tapi tak sama. Serupa dalam hal bentuk, tujuan hidup, serta “fasilitas” yang diberikan Allah SWT dan tidak sama berlaku dalam hal sifat, pola pikir, ataupun tingkah laku. Yang terakhir, yaitu tingkah laku atau karakter, bila dikaitkan dengan organisasi ada enam tipe karakter yang sulit menurut Lawson yaitu aggressive, complainer, unresponsive/silent, super aggreable, negativist, dan know it – all expert.

Walaupun masing-masing karakter tersebut digolongkan dalam tipikal karakter yang sulit namun menurut para ahli pengembangan diri setiap karakter pada manusia bisa berubah menjadi lebih baik jika ada keyakinan dan kemauan intrinsik dari manusia tersebut, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat baik dalam dirinya.

Kemudian yang jadi pertanyaan adalah bagaimana seandainya orang tersebut tidak mau berubah atau orang tersebut tidak mengetahui bahwa ada karakter dalam dirinya yang mengganggu kenyamanan orang lain, terutama dalam hubungan kerja yang membutuhkan team work yang solid untuk mencapai tujuan organisasi.

Salah satu karakter yang sering muncul pada manusia adalah sifat yang selalu mengeluh (complainer), yang memiliki karakteristik:

  • Selalu mencari kesalahan-kesalahan dan menciptakan suasana negatif,
  • Menyalahkan orang lain (whistle blower),
  • Sering membuat tuduhan kepada para koleganya,
  • Tampil beda menjadi seorang yang sempurna dan senang mempermainkan orang lain.

Sisi baik dari para complainer ini adalah bahwa:

  • Mereka sebenarnya ingin melakukan segala sesuatu yang ditugaskan dengan baik dan cepat terselesaikan,
  • Ketika seorang pemimpin mampu mengatasi para complainer, maka loyalitas mereka akan semakin tinggi kepada organisasi,
  • Orang yang menjadi “korban” complainer akan berusaha untuk introspeksi dan melakukan pembenahan terus menerus,

Bagaimana cara mengatasi karyawan bertipikal complainer?
Complainer atau orang yang selalu mengeluh muncul dari fakta yang mendasari bahwa mereka tidak puas terhadap kehidupan pribadi mereka sendiri. complainer ini memiliki kebutuhan keprihatinan mereka untuk diakui. Apakah itu dalam kehidupan mereka profesional atau pribadi, pengeluh tidak dapat memiliki ketenangan pikiran sampai seseorang mendengarkan dan mengakui keprihatinan mereka. Mereka merasa tidak puas dan mereka tidak hanya ingin hal-hal berubah, mereka ingin didengar dan dimengerti. Jadi, yang perlu dilakukan adalah..

Dengarkan kepedulian mereka. Tak cukup hanya dengan menyelesaikan masalahnya. Orang mempunyai kebutuhan psikologis agar orang lain mengakui keberadaan mereka. Biarkan semua hal yang terpendam keluar, sebelum kita mengatasi masalahnya. Buat mereka berani menyampaikan apa yang menjadi ganjalan dalam hati sehingga membuat semua hal yang menyebabkan frustasi dapat disampaikan dengan baik.

Berempatilah kepada mereka. Bayangkan ketika menjadi mereka, lihatlah segala sesuatu dari perpsektif mereka. Empati adalah alat penting yang dapat kita gunakan untuk memfasilitasi kerjasama. Biarkan mereka tahu bahwa kita memahami situasi mereka dan membuat mereka merasa nyaman dan penting. Gunakan empati pernyataan seperti, “Jika saya berada di posisi Anda, saya akan benar-benar marah juga“. Ulangi keprihatinan mereka kembali kepada mereka dengan kata-kata Anda sendiri. Hal ini memungkinkan mereka mengetahui bahwa Anda telah mendengarkan dan memungkinkan Anda untuk mengkonfirmasi bahwa Anda telah mendengar dan mengerti semuanya dengan benar.

Tanyakan apa yang sebenarnya mereka ingin lakukan. Sebagai pemimpin, biasanya kita sudah mengetahui apa yang kebanyakan orang atau bawahan ingin lakukan, tetapi dengan membuat mereka bicara dari hati tentang apa yang ingin mereka lakukan akan membuat mereka lebih nyaman dan bahagia.

Kunci efektif sebagai pemimpin menghadapi para complainer ini adalah gunakan kemampuan mendengar yang kita miliki sebaik mungkin. Mereka ingin didengar, diakui – jangan diabaikan, kalau orang jawa bilang “diuwongke”. Karena setiap orang pada dasarnya memiliki sisi baik. Kemudian, Go first, adalah istilah dalam dunia terapi, yang menjelaskan agar ketika kita ingin membuat kondisi orang lain menjadi baik, maka kita harus baik terlebih dahulu. Begitu pula ketika mengatasi para complainer, sebagai pemimpin kita harus menjadi role model bagi mereka.

Have a nice weekend 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s