membeli komitmen karyawan

Perbincangan hangat beberapa rekan sekampus dalam WAG (whatsapp group) mengenai pentingnya kualitas dalam pengelolaan organisasi yang berawal dari proses rekrutmen dan seleksi, dan sependek pengetahuan saya kualitas SDM dapat dibangun dengan kemauan dan komitmen yang kuat dari hulu ke hilir. Dari pucuk pimpinan yang memberi tauladan hingga karyawan komponen terbawah. Diskusi tersebut menyebabkan saya menemukan kembali ghirah nge-blog yang telah lama memudar. Alhamdulillah.. 🙂 

Salah satu tulisan menarik dari majalah SWA yang saya temukan, yaitu tulisan dengan judul “membeli” komitmen karyawan, yang ditulis oleh bapak Tommy Sudjarwadi. Beliau bercerita tentang betapa susahnya mencari karyawan dengan komitmen dan work performance yang tinggi, padahal berbagai fasilitas sudah dia dapatkan seperti gaji pokok yang besar, fasilitas yang lengkap, skema bonus yang menarik sampai pembagian keuntungan yang diperoleh perusahaan dari unit bisnisnya yang lain. Dengan imbalan sebanyak itu, masih banyak karyawan yang bermain game pada jam kantor, surfing internet mencari sesuatu yang tidak relevan dengan job description-nya (saya tidak menulis demam Facebook, karena sudah banyak instansi yang memblokir situs social network yang satu ini pada jam produktif), dan belanja untuk keperluan pribadi (untuk yang terakhir ini sudah menjadi rahasia umum bahwa para ibu-ibu PNS yang sering melakukannya.. 🙂 ).

Saya berpikir, apa jadinya kalau perusahaan atau instansi tempatnya bekerja tidak memberikan fasilitas-fasilitas yang disebutkan di atas. Yang perusahaan berikan hanya fasilitas standar yang sudah ditetapkan oleh pemerintah saja. Apakah masih ada karyawan yang berpikir “saya akan bekerja sebaik mungkin, dan saya yakin rejeki akan mengikuti saya”. Saya masih ingat betul kata-kata mantan rektor di universitas semasa saya kuliah dulu, beliau selalu mengingatkan kepada mahasiswanya supaya “YOU HAVE TO BE ABOVE AVERAGE!!”, bahwa kita harus selalu di atas rata-rata, apapun pekerjaan yang saat ini kita lakukan, dalam posisi apapun.

Oya.. dalam tulisan tersebut juga diilustrasikan tentang pembantu rumah tangga (PRT), rata-rata masa kerja PRT saat ini jauh lebih pendek dibandingkan pada zaman orang tua kita dulu. Alasannya bisa banyak sekali, dari majikan yang tidak bersahabat, gaji yang tidak sesuai dengan yang disampaikan di awal dan banyak lagi. Namun, mengapa masih ada beberapa PRT yang setia bekerja ditempat pertama kali dia bekerja, bisa lebih dari sepuluh tahun, bahkan sampai anak majikannya tumbuh dewasa hingga menikah? Atau fenomena abdi dalem dalam kraton Yogyakarta dan Surakarta. Mereka rela menghabiskan masa tuanya disana, bahkan dengan kompensasi finansial dan fasilitas yang menurut kita saat ini masuk kategori kurang layak. Jawabannya, selain karena bersifat pengecualian, hal itu terjadi karena faktor nguwongke uwong (memanusiakan manusia), itulah rahasia mereka dapat mempertahankan pekerja (baca: karyawan tangguh) yang mereka miliki.

Jika komitmen karyawan yang susah “dibeli”, sebaiknya kita tidak cuma memandang dari sisi karyawan saja. Pertanyaannya kemudian apakah para pemilik atau pimpinan perusahaan sudah “memanusiakan” para karyawannya. Banyak para pimpinan yang terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri, mereka tidak memperhatikan orang-orang dibawah mereka. Mereka lupa bahwa sebenarnya mereka juga harus memberi contoh (baca: tauladan), sebelum mereka memerintahkan sesuatu. Yaahhh.. hukum alam yang terjadi.. Mereka tidak menghiraukan orang-orangnya, maka akibatnya para karyawannya menanggapi dengan cara yang sama – dengan bekerja serampangan dan bukan dengan upaya terbaik mereka.

Dalam buku The Carrot Principle, Adrian Gostick dan Chester Elton menekankan bahwa untuk memenangkan persaingan yang luarbiasa saat ini, perusahaan harus memperlakukan karyawan sebagai manusia seutuhnya dengan memenuhi kebutuhan fisik, mental, emosional, dan spiritual mereka. Banyak perusahaan saat ini hanya memenuhi kebutuhan fisik dan mental saja. Perusahaan terjebak hanya fokus kepada program compensation and benefit serta training and development, untuk kemudian menelan kekecewaan karena komitmen karyawan yang ala kadarnya dan prestasi kerja yang tak kunjung menjulang. Perusahaan lupa bahwa semakin fit dan pandai karyawannya, mereka makin memerlukan kebutuhan emosional dan spiritual. Teori klasik Abraham Maslow tentang hierarkhi kebutuhan disini yang berlaku.

Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan handarbeni (sense of belonging) para karyawan, karena mereka adalah aset perusahaan juga. Sebuah komitmen lahir dari ikatan emosional yang kuat dan semangat spiritual yang menenangkan. Selain program-program compensation and benefit serta training and development yang memadai, sangat baik dirintis program-program yang memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual karyawan. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s